type 45 low

Paket Kebijakan Jokowi XIII, Angin Segar ke Sektor Properti

Tanggal 24 Agustus 2016, pemerintah baru saja merilis paket kebijakan ekonomi jilid 13. Dalam paket kebijakan tersebut pemerintah menitikberatkan perhatiannya pada percepatan penyediaan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah.

Bagaimana caranya?
Lewat paket kebijakan jilid 13 ini, pemerintah telah menyederhanakan regulasi sekaligus menekan pajak bagi pengembang kawasan perumahan.

Jika dulu pengembang harus melewati 33 tahapan perizinan, kini pengembang hanya perlu melewati 11 tahapan perizinan.

Jenis perizinan yang dihilangkan antara lain menyangkut izin lokasi, rekomendasi peil banjir, persetujuan gambar master plan, persetujuan dan pengesahan gambar site plan, izin cut and fill dan analisis dampak lingkungan lalu lintas (Andal Lalin).

Selain mengurangi jenis perizinan, ada pula beberapa proses perizinan yang digabungkan menjadi satu, yakni proposal pengembang dengan surat pernyataan bebas sengketa lahan.

Mulai sekarang, pengesahan site plan juga bisa diproses bersamaan dengan izin lingkungan yang mencakup SPPL (Surat Pernyataan Pengelolaan Lingkungan), rekomendasi damkar dan retribusi penyediaan lahan pemakaman.

Nah dengan pemangkasan proses dan biaya perizinan ini, biaya pembangunan rumah akan semakin murah dan permintaan akan semakin meningkat.

Angin Segar untuk Sektor Properti

Pemberlakuan paket kebijakan ini tentu menjadi sentimen positif tambahan untuk sektor properti. Kalau kita ingat lagi, sejak 9 Agustus 2016 lalu sektor properti telah mendapat banyak angin segar, yaitu:

Tax Amnesty
Pengampunan pajak atau tax amnesty sangat didukung oleh kalangan pengembang properti karena dana yang didapat dari perlakuan istimewa ini bisa membantu memulihkan pasar properti yang melambat.

Dana repatriasi dari tax amnesty bisa dialirkan ke sektor properti melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Jika PMK terbit, dana repatriasi atau dana pengembalian akan masuk sektor properti. Saat dana repatriasi masuk ke bank, si pemilik dana boleh membeli properti yang diawasi oleh bank, sebagai gateway.

Lebih untung mana, membeli properti secara tunai atau kredit?
Pada dasarnya, membeli properti secara tunai jauh lebih aman dan menguntungkan ketimbang kredit. Namun, jika ternyata dana tunai tidak mencukupi, Anda boleh menggunakan fasilitas kredit dalam perbankan.

Nah, Anda tidak perlu khawatir lagi dengan tingkat suku bunga yang berlaku, suku bunga acuan Bank Indonesia tergolong rendah. Setelah menurunkan tingkat suku bunga beberapa kali, sebelumnya tingkat suku bunga di level 7.5 % dan saat ini berada di level 6.5 %.

Bulan Agustus ini, BI telah menggunakan acuan BI seven days repo, di mana acuan bunga ini lebih rendah dari BI rate, yakni 5.25%. Berarti bunga pada bank lain juga berkesempatan untuk turun.

Tingkat suku bunga KPR yang semakin murah akan mendorong minat banyak orang untuk membeli rumah dengan pembiayaan kredit, apalagi property termasuk dalam kebutuhan dasar manusia.

Permohonan kredit rumah bersubsidi melalui e-FLPP
Permohonan kredit rumah bersubsidi yang proses sebelumnya memakan waktu 7 hari, kini hanya 3 hari dengan menggunakan e-FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan).

Bank Indonesia juga telah menyempurnakan ketentuan loan to value atau financing to value untuk kredit pemilikan properti dan kredit konsumsi beragun properti. Sehingga uang muka atau down payment (DP) yang dikenakan kepada masyarakat yang ingin membeli hunian lewat KPR lebih rendah dari sebelumnya.

Nah dari sentimen-sentimen diatas secara langsung maupun tidak langsung akan membuat banyak orang berkeinginan membeli rumah, sehingga emiten-emiten properti akan dibanjiri banyak permintaan dan akan lebih gencar untuk meluncurkan proyek-proyek baru. Yang tentu saja akan membuat pendapatan perusahaan itu juga meningkat.

Hal ini membuat trader/investor melihat saham property ini menjadi sangat menarik, sehingga akan ada aliran dana tambahan yang masuk untuk emiten property ini.

Aliran tersebut yang nantinya akan mendorong peningkatan harga saham perusahaan itu maupun mendorong IHSG.

Secara teknikal sektor properti berpotensi mengalami teknikal rebound sehingga berpotensi menguat.

Dan jangan lupa sektor yang pergerakannya berbanding lurus dengans ektor properti adalah sektor industri dasar khususnya semen sebagai bahan baku utama juga berpotensi aktif.

Salam Profit,
Ellen May

Sumber: detikcom

One Comment to Paket Kebijakan Jokowi XIII, Angin Segar ke Sektor Properti

  1. Ginta says:

    Untuk Info lebih lanjut dan pemesanan.

    Ginta
    08116333210
    Marketing executive
    Medan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *